PUASA MOMENTUM PERUBAHAN DAN SEMANGAT

REFORMASI BIROKRASI

Oleh Zulkifli

 

Tanpa Terasa Puasa Ramadhan pada tahun 1443 Hijriyah, akan segera datang menjumpai kita lagi, puasa Ramadhan adalah merupakan undangan Allah swt bagi manusia yang beriman, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183 “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Orang-orang yang beriman dipanggil oleh Allah dengan mesra untuk melaksanakan Puasa, bagi orang-orang yang beriman pasti menyambut baik undangan Allah swt, mereka akan memenuhi undangan untuk berpuasa tersebut.

Kita berpuasa tentunya bukan hanya sekarang, melainkan sejak kecil, lalu pertanyaannya sudah berapa kali dalam hidup kita melewati puasa di bulan ramadhan demi ramadhan, kemudian pertanyaannya lagi, apa yang telah kita dapatkan selama ini, kalau kita ilustrasikan dimana umur kita 50 tahun, berarti kita sudah menjalani puasa sebulan penuh kira-kira 35 kali dalam 35 tahun sejak terakhir baligh, tentu telah banyak perubahan yang telah kita aplikasikan dan implentasikan dalam hidup dan kehiudupan kita, karena puasa selalu membawa pengaruh Positif dan bernilai Reformatif bagi prilaku dan cara hidup kita sehari-hari, setiap Ramadhan datang selalu membawa momentum paling menentukan bagi upaya aktualisasi ibadah puasa ditengah agenda perubahan dan reformasi dalam diri kita  yang tersimpan semangat perubahan menjadi pribadi yang lebih baik, dalam Islam puasa ramadhan akan mengantarkan umat kembali pada kesucian, kemenangan dan menggelorakan perubahan.

Setiap Ramadhan datang, kita melihat fenomena nilai-nilai ketakwaan sangat terlihat sekali di bulan ramadhan, karena dibulan yang mulia ini nilai-nilai ketaqwaan itu muncul sangat jelas perubahan nyata, keshalehan meningkat tajam seperti tercermin dalam semangat berinfak, suka membantu orang miskin, begitu juga dengan keshalehan setiap  orang yang tergambar dari banyaknya ibadah, rajin kemesjid, memperbanyak shalat sunnat, membaca Al-quran, suka berzikir dan memberikan nasehat-nasehat tentang keshalehan, pendek kata kesempurnaan kita tampak dengan indah di bulan yang penuh berkah ini, kemudian kita juga melihat dengan kasat mata yang jelas di bulan ramadhan berupa bazar ramadhan yang menawarkan berbagai pernak pernik muslim dan menjual makanan perbukaan tumbuh bagaikan jamur, baik dikota-kota maupun dikampung-kampung, itu membuktikan bahwa puasa selalu membawa perubahan peningkatan ibadah dan peningkatan kehidupan, Islam mengajarkan semangat perubahan diantaranya melalui kewajiban berpuasa di bulan ramadhan.

Sebagai mana yang kita baca di dalam buku literature mengenai puasa telah menjelaskan bahwa puasa ramadhan telah menawarkan bonus-bonus yang luar biasa dari Allah swt, berupa pahala yang berlipat ganda yaitu momentum dan pembuktian, keduanya sangat penting untuk perubahan ke arah yang lebih baik, momentum membuat kita mudah bergerak dan terus bergerak menuju pendekatan diri kepada Allah swt.

Puasa Ramadhan selalu mengajarkan kita, agar selalu  bergerak menuju perubahan, begitu juga dari segi mindset, kita sudah memiliki mindset sukses dan kemenangan dengan pembuktian bahwa kita bisa melakukan hal-hal yang pada hari-hari biasa dianggap berat, namun Ramadhan datang semuanya itu menjadi ringan, karena kita sedang menuju taqwa, dan orang-orang bertaqwa itu adalah  mendapatkan kemenangan Q.S An-Naba’ ayat 31.

Puasa Ramadhan bukan hanya kesuksesan akhirat yang dapat kita peroleh, tetapi keberhasilan di dunia pun bisa kita raih, karena kita sudah memiliki pengalaman yang bisa terus kita pertahankan untuk kehidupan kita, baik itu urusan dunia dan Akhirat. Aplikasi dalam kehidupan kita sehari-hari ialah bahwa kita bisa melakukan tindakan yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya, kita bisa bertindak lebih dalam dunia kerja, kita bisa berbuat lebih baik dalam Bisnis, kita bisa berbuat lebih dalam dakwah, sehingga kita menjadi manusia yang selalu baik dari hari kehari, apalagi Puasa telah mengajarkan kita menjadi lebih baik, lebih disiplin dan bertanggung jawab, meningkatkan moralitas, menjadi orang jujur, peduli terhadap sesama itulah ramadhan banyak hal yang diajarkannya kepada kita, tentu kita bersyukur bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk menjalankan puasa ramdhan pada Tahun 1443 Hijriyah.

Puasa selalu membawa semangat Reformasi Birokrasi, Istilah Reformasi, dalam bahasa Arab lebih disetarakan dengan lafaz Islah, Ia diambil dari aslaha-yaslihu-islah yang berarti lawan dari pada kata rusak (fasad), Reformasi lebih pas dimaknai dengan sebuah semangat menuju kebaikan (Azyumardi Azra) Islam mengajarkan semangat perubahan itu diantaranya melalui kewajiban berpuasa dibulan Ramadhan, karena puasa melatih mengendalikan dan menguasai diri dari segala godaan syahwat dengan selalu berpegang pada ajaran Allah dan Rasulnya, inilah sesungguhnya relasi antara makna puasa  dengan tujuan puasa  sebagaimana disebut dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yakni La’allakum tattaqun, agar orang-orang yang berpuasa dapat menggapai darajat takwa, sebagaimana dijelaskan oleh Ubay bin Ka’ab  r.a. ketika ditanya Umar bin Khattab r.a, makna takwa adalah hati-hati meniti tiap jejak langkah kehidupan dengan selalu berpegang teguh pada ajaran Allah swt, dan sunnah RasulNya.

Dari inti makna puasa ini lahirlah delapan nilai puasa yang berkorelasi dengan hidup dan perikehidupan manusia didunia ini, delapan nilai puasa tersebut meliputi (1) puasa melatih kesabaran dan Manahan amarah (2) puasa melatih untuk berempati kepada sesama (3) puasa mengajarkan arti bersyukur (4) puasa menghindarkan diri dari sifat rakus (5) puasa melatih kedisiplinan dan tanggung jawab (6) puasa melatih dan menjaga kesahatan tubuh (7) puasa mengajarkan untuk saling menghormati (8) puasa mengajarkan untuk lebih banyak berbagi kepada sesame (Drs, H. Karsa Sukarsa MM).

Selanjutnya dimanakah hubungan antara nilai puasa dengan semangat Reformasi Birokrasi,   yang oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara memberikan peraturan terhadap Reformasi  Birokrasi melalui Peraturan Nomor 16 Tahun 2015 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2015-2019, Reformasi Mahkamah Agung Republik Indonesia dilaksanakan untuk menjawab tuntutan terhadap delapan area perubahan, yaitu Penataan Bairokrasi, perubahan pola fikir (mind set) dan budaya kerja yang terwadah pada komitmen Pimpinan, penataan tatalaksana (Business prosess) Penataan Peraturan Perundang-undangan, Penataan Sistem manajemen Sumber daya manusia (SDM), Penguatan Akuntablitas, Penataan Pengawasan dan Peningkatan kualitas Pelayanan Publik, kriteria keberhasilan area perubahan Reformasi Birokrasi tersebut ditunjukkan oleh hasil capaian pada tingkat kepuasan masyarakat atau pengguna layanan,  peningkatan profesionalitas Sumber Daya manusia dan pencapaian indikator kinerja utama.

Benang Merah antara Nilai-nilai Puasa dan nilai-nilai Reformasi Birokrasi terletak pada aspek akuntabilitas kinerja, akuntabilitas adalah kewajiban dari individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola Sumber Daya Publik dan yang bersankutan dengannya, kemudian dapat menjawab hal yang menyangkut pertanggung jawabannya, keterkaitan puasa dan Reformasi Bairokrasi terletak pada salah satu Nilai puasa, yaitu puasa melatih Kedisiplinan dan Tanggung jawab.

Tentang Puasa melatih kedisiplinan dan tanggung jawab, dalam sebuah hadis qutsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh r.a Rasulullah saw  bersabda , bahwa Allah swt berfirman “ Setiap amalan manusia adalah untuknya, kecuali puasa sebab puasa hanya untukku dan akulah yang akan memberikan ganjaran kepadanya secara langsung (H.R.Bukhari dan Muslim) Nilai kedisiplinan dan tanggung jawab dari ibadah puasa terletak pada penggalan hadis  “wa anaa ajzii bihi” sebab puasa itu untukku aku sendirilah yang akan memberikan ganjaran kepadanya secara langsung. Menurut Penjelasan para ulama, puasa merupakan amalan batin yang pada hakikatnya tidak diketahui kecuali oleh Allah dan orang yang berpuasa itu. Puasa adalah ibadah yang bertumpu pada niat dalam hati, hal ini berbeda dengan ibadah lainnya yang bisa dilihat dan tampak oleh mata, sementara puasa merupakan amalan yang bersifat rahasia antara Allah dan Hambanya.

Betapa banyak orang yang memeliki ide, bagaimana orang lain harus berubah, akan tetapi sedikit sekali ide bagimana dirinya harus berubah. Melalui ibadah puasa inilah, sesungguhnya Allah swt, tengah memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan reformasi diri yang kemudian berlanjut ke reformasi birokrasi. Reformasi spiritual dalam ibadah puasa  terletak pada nilai kedisiplinan dan tanggung jawab. Setelah selesai menjalankan ibadah puasa, bukan hanya derajat takwa yang akan kita dapat dan kita peroleh, ibadah puasa juga akan berdampak pada reformasi birokrasi dan reformasi sosial, yakni kita akan semakin disiplin dan bertanggung jawab dalam bekerja dan menjalani kehidupan. Dengan demikan ibadah puasa kita tidak berhenti pada aspek ritual dan spiritual semata, tetapi diharapkan berdampak pula pada perubahan birokrasi dan sosial kearah yang lebih baik. Puasa yang bernuansa reformnasi disetiap lini kehidupan. Puasa reformatif adalah puasa yang pelakunya mampu merobek dinding ramadhan, menembus ruang dan waktu terus menerus meneladani sifat-sifat ramadhan dalam kehidupannya.

Marhaban ya Ramadhan 1443 H, puasa yang akan dilaksanakan selama satu bulan kedepan, kita jadikan momentum perubahan dan semangat reformasi diri dan reformasi birokrasi, Puasa yang kita nanti dan selalu kita rindukan sejak 11 bulan yang lalu, semoga Allah pertemukan kita dengan bulan yang penuh dengan kemuliaan itu, doa kita semoga diberi kesehatan, sehingga kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya sehingga kita betul-betul mendapatkan  penghargaan prediket terbaik dari Allah swt…Aamiin

Daftar bacaan

  1. Durratun Nasihin
  2. Fiqih Sunnah dan Fiqih Lengkap
  3. Tafsir Al-Misbah
  4. Tafsir Ibnu Kasir dan beberapa Artikel
  5. Peraturan Reformasi  Birokrasi melalui Peraturan Nomor 16 Tahun 2015