Oleh : M. Arqom Pamulutan, S.Ag, M.A.

(Hakim Pengadilan Agama Pangkalan Kerinci – Riau/
Delegasi Indonesia untuk pelatihan Hakim Pengadilan Agama di IMIS-IU Riyadh)

Alhamdulillah karena izin Allah Penulis diberi kehormatan untuk menjadi salah satu di antara 40 hakim Pengadilan Agama delegasi Indonesia yang berkesempatan mengikuti pelatihan khusus bagi Hakim Angkatan II di Ma’had ‘Aly li al-Qadha’ (Sekolah Tinggi Peradilan) Al-Imam Mohamed Ibn Saud Islamic University (IMIS-IU) Riyadh. Pelatihan yang berlangsung selama 30 hari dari tanggal 16 Mei 2012 ini terselenggara atas kerjasama Mahkamah Agung RI dengan pihak IMIS-IU yang telah dirintis sejak tahun 2008 yang lalu. Dengan menyadari bahwa bagi tiap-tiap negara di belahan bumi ini terdapat tradisi belajar yang beragam, termasuk di IMIS-IU Riyadh, melalui laporan ini Penulis ingin berbagi cerita dan sekelumit kesan mengenai apa yang penulis temui sepanjang beberapa hari belajar di sini.

Berkat do’a nabi Ibrahim dan karunia yang luar biasa dari Allah, negara Arab Saudi dapat membangun negerinya dengan baik. Infrastruktur jalan dan jembatan (serupa jalan tol) yang lebar-lebar tersedia membelah kota Riyadh yang rasanya ketika menyaksikan ini hati jadi iri dibuatnya. Di kanan kiri sepanjang jalanan di kota Riyadh tetata rapi taman yang ditumbuhi rumput hijau, pohon kurma dan beberapa jenis pepohonan lainnya. Kecuali di tempat-tempat pusat keramaian, maka nyaris tidak ada kesan jalanan macet di Riyadh.

Suasana di Kamus dan Asrama IMIS-IU

 IMIS-IU adalah salah satu Universitas terbesar di Arab Saudi di antara sejumlah universitas lainnya, utamanya yang berlokasi di Riyadh (ibukota Arab Saudi). Areal Universitas ini terbentang luas tidak kurang dari 100 hektar yang terdiri dari Kampus (tempat belajar dan perkantoran) yang memanjang sepanjang + 2 KM di bagian depan Kompleks dan Asrama Mahasiswa yang terdiri dari bangunan menyerupai apartemen meliputi + 83 gedung (mabna) berlantai 6 dan 4 yang tiap-tiap lantai terdiri dari 4 kamar type 42 dengan kamar mandi, ruang tamu, kamar tidur dan dapur yang lengkap dengan perabotannya yang serba elektronik serta beberapa kamar yang lebih kecil namun dengan fasilitas yang sama di belakang kampus. Selain itu terdapat sarana olah raga menyerupai stadion besar dengan berbagai jenis cabang oleh raga dan sebuah rumah sakit kampus yang dikelola oleh Fakultas Kedokteran IMIS-IU. Kecuali bangunan masjid, semua gedung yang ada di kompleks IMIS-IU berbentuk kubus yang tersusun rapi dan teratur dengan jendela-jendela terlihat di kubus tersebut.  

Mahasiswa yang belajar di IMIS-IU berjumlah ribuan (dari S.1 s.d. S.3) yang berasal dari berabagai benua dan negara di belahan bumi ini. Hampir semua cabang ilmu pengetahuan diajarkan di sini, dari ilmu ke-Islaman, ilmu pasti, ilmu sosial, humaniora, seni, budaya dan sebagainya. Bagi mahasiswa disediakan fasilitas belajar yang nyaman dan pemenuhan berbagai kebutuhan akademik dan hiburan, bagi mereka disediakan sebuah tempat khusus mahasiswa untuk mengembangkan bakat dan hobbinya sekaligus pusat informasi mahasiwa yang terletak di samping masjid Asrama berupa Student club (Nadi al-Thullab) dengan fasilitas internet, home teater, game, biliar, tenis meja, sanggar seni lukis, kaligrafi dan sebagainya. Prestasi mahasiswa IMIS-IU patut diperhitungkan di tanah Arab, hal itu paling tidak terlihat dangan banyaknya piala yang di pajang di Student club ini. Singkatnya, kurang lebih suasananya 95% sama dengan suasana pesantren modern di tanah air. Para delegasi Indonesia ditempatkan di mabna khusus untuk tamu Universitas yaitu mabna 41, 42, 43, 44 dan 45 yang terletak dekat dengan pintu masuk, Student club dan masjid. 

Berbeda dengan di Indoensia yang belajar formalnya dari pagai sampai sore hari (bahkan malam hari), waktu belajar formal di IMIS-IU adalah dari jam 08.00 s.d. 12.30, setelah itu mahasiswa kembali ke asrama untuk shalat Zuhur dan istirahat yang selanjutnya dapat melakukan aktifitas non formal lainya sampai malam hari. Sama seperti Indonesia, dalam satu minggu di IMIS-IU dan Arab Saudi pada umumnya hari kerja hanya 5 hari, hanya yang berbeda di sini hari kerja mulai sabtu hingga rabu sedangkan jum’at dan sabtu mereka libur.

Saat ini di Arab Saudi sedang musim panas (ayyam al-Shayf), karenanya selain di dalam ruangan yang semuanya ber-AC udara di luar sangat panas ditambah lagi angin panas tidak henti-hentinya berhembus yang mengakibatkan udara semakin panas sehingga hampir semua delegasi Indonesia kulitnya mengering dan pecah-pecah utamanya di bibir. Meskipun demikian, tidak ada keringat yang keluar dari badan (mungkin karena pengaruh hembusan angin panas). Saat ini para mahasiswa sedang mengahadapi ujian akhir (ikhtibarat al-niha’i) yang setelah itu akan menjalani liburan musim panas selama 3 bulan hingga 10 Syawwal, karenanya kemungkinan besar delegasi Indonesia akan kesepian di Asrama.

Budaya salam dan menghormati waktu azan                           

Ada budaya yang menarik dan layak untuk ditiru oleh orang Indonesia selaku umat muslim, utamanya bagi kalangan mahasiswa di kampus-kampus baik kampus Islam (IAIN ), Universitas Islam maupun Universitas umum lainnya, yaitu budaya mengucapkan salam kepada setiap orang yang dijumpai dan keramah tamahan ketika berjumpa dengan sesama teman. Lebih dari iti masing-masing saling berangkulan dan mengadu pipi kiri dan kanan berulang-ulang seraya menanyakan kabar seperti “kaifa haluka,” (apa kabar) lalu saling mendo’akan seperti mengucapkan “hayyakallah,” (semoga Allah memberikan kehidupan bagimu), “bararakalah laka,” (semoga Allah memberkatimu), dan kalimat-kalimat lainnya bermakna do’a untuk orang yang disapa. Sebagian besar mahasiswa berjalan dengan langkah yang cepat dan terlihat menyandang kitab-kitab tebal di tangannya.

Ketika menjelang waktu shalat fardhu, semua kegiatan dihentikan dan para mahasiswa sudah bersiap-siap dan bergegas menuju masjid. Budaya menghentikan kegiatan menjelang watu shalat atau pada saat azan dikumandangkan bahkan tidak hanya berlaku di kampus, melainkan  berlaku pula di luar kampus. Sehingga tidak heran jika pada saat menjelang jam 12 siang semua toko ditutup dan baru akan dibuka lagi pada pukul 15 sore.

Budaya seperti tentunya cocok untuk diterapkan di Indonesia, apalagi di Aceh yang telah menerapkan syari’at Islam secara formal. Memang selama ini di Aceh sudah ada ketentuan bahwa pada saat memasuki waktu shalat shalat fardlu segala kegiatan harus dihentikan termasuk pasar dan toko-toko harus ditutup, namun pelaksanaannya belum sesuai dengan harapan karena masih ada sebagian besar toko yang buka pada saat azan berkumandang atau masih ada transaksi dan kesibukan lain yang dilakukan. Oleh karenanya kedepan perlu ditumbuhkan lagi keasadar untuk mengormati waktu shalat dengan cara melaksanakan shalat di awal waktu atau paling tidak menghentikan semua aktifitas pada saat shalat jama’ah di awal waktu berlangsung. Diharapkan hal ini tidak hanya berlaku di Aceh saja, melainkan di seluruh wilayah tanah air tercinta.

Perempuan tidak keluar rumah di siang hari

            Di kota Riyadh, pada siang hari perempuan-perempuan tidak akan ditemukan di pusat keramaian. Bahkan jika pergi ke toko-toko di pinggir jalan kota maka semua pedagang atau penjaga toko yang nampak adalah para laki-laki, baik orang Arab maupun non Arab seperti India, Bangladesh, Pakistan dll. Konon, para perempuan Arab baru akan keluar pada sore hingga menjelang tengah malam. Hal ini berbeda dengan di tanah air di mana hampir semua toko ada yang dijaga perempuan sebagai pramuniaga, sehingga sepanjang siang dan malam dapat ditemui wanita Indonesia di keramaian. Gambaran kesan ini hanya sekedar bagian dari keragaman budaya yang Allah jadikan untuk diambil pelajaran bagi yang dapat mengambil pelajaran. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

{jcomments on}