Pekanbaru | www.pta-pekanbaru.go.id

Pengadilan Tinggi Agama Pekanbaru kembali melaksanakan kegiatan pembinaan mental sebagai upaya memperkuat keimanan dan menanamkan nilai-nilai kehidupan bagi seluruh aparatur, pada hari senin tanggal 12 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh personel PTA Pekanbaru yang dilaksanakan di Ruang H. Busthanul Arifin PTA Pekanbaru. Pada kesempatan ini, pembinaan mental disampaikan oleh Muhammad Razali, S.Ag., S.H., M.H., dengan mengangkat tema “Pesan Ayah”.

Dalam tausiah yang disampaikan, Muhammad Razali mengisahkan cerita tentang seorang ayah yang semasa hidupnya berjuang dari keterbatasan hingga berhasil memperoleh harta yang berlimpah. Sebelum meninggal dunia, sang ayah berpesan kepada anak-anaknya agar kelak ketika ia wafat, sepasang kaus kaki lama yang dahulu dikenakannya saat mencari pekerjaan dipakaikan sebelum jenazahnya dikafani.

Ketika sang ayah meninggal dunia, anak-anaknya berusaha memenuhi pesan tersebut. Namun, petugas yang mengurus jenazah menjelaskan bahwa kaus kaki tidak boleh dipakaikan kepada jenazah. Perdebatan pun terjadi hingga akhirnya seorang notaris datang membawa surat peninggalan sang ayah.

Dalam surat tersebut, sang ayah seolah telah mengetahui bahwa pesan mengenai kaus kaki itu akan menimbulkan perdebatan. Melalui pesan terakhirnya, ia ingin menyadarkan anak-anaknya bahwa sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan selama hidup, tidak ada yang dapat dibawa ketika seseorang meninggal dunia. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa harta dan kesuksesan duniawi bukanlah tujuan akhir kehidupan, melainkan amanah yang harus dikelola dan dimanfaatkan untuk kebaikan.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10, yang artinya : “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”

Ayat ini mengingatkan orang-orang beriman agar membelanjakan sebagian rezeki yang telah Allah karuniakan sebelum datangnya kematian, ketika seseorang tidak lagi memiliki kesempatan untuk bersedekah dan beramal saleh.

Melalui kisah “Pesan Ayah”, seluruh aparatur diajak untuk tidak terlena dengan kehidupan dunia dan kekayaan yang dimiliki. Harta hendaknya digunakan untuk membantu sesama, menunaikan kewajiban, memperbanyak sedekah, serta menjadi sarana meraih rida Allah SWT. Selain itu, setiap orang tua diharapkan mampu mendidik dan membimbing anak-anaknya agar tumbuh menjadi generasi yang saleh dan salehah, berakhlak mulia, serta memiliki bekal iman dan amal kebaikan.

Kegiatan pembinaan mental ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh aparatur PTA Pekanbaru untuk senantiasa memperbaiki diri, memanfaatkan waktu dan rezeki dengan sebaik-baiknya, serta menjadikan setiap amanah dan pekerjaan sebagai ladang ibadah. Sebab, pada akhirnya, bukan banyaknya harta yang menentukan nilai kehidupan seseorang, melainkan keimanan, amal saleh, dan kebaikan yang ditinggalkan selama hidup di dunia.