Pekanbaru||www.pta-pekanbaru.go.id

Senin, 14 September 2026, Pengadilan Tinggi Agama Pekanbaru kembali melaksanakan kegiatan pembinaan mental yang diikuti oleh seluruh personel PTA Pekanbaru. Kegiatan yang berlangsung di Ruang H. Busthanul Arifin tersebut menghadirkan Drs. Alimuddin, S.H., M.H., Hakim Tinggi PTA Pekanbaru, sebagai pemateri dengan tema “Keutamaan Membaca Al-Qur’an.”

Dalam penyampaiannya, kembali diingatkan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang diturunkan Allah SWT sebagai petunjuk bagi umat manusia. Beliau menjelaskan bahwa terdapat empat kitab yang diturunkan Allah SWT kepada para nabi dan rasul, yaitu Taurat kepada Nabi Musa a.s., Zabur kepada Nabi Daud a.s., Injil kepada Nabi Isa a.s., dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Disampaikan pula bahwa tujuan hidup manusia adalah memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat serta terhindar dari api neraka. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia perlu senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Di tengah perkembangan teknologi, khususnya penggunaan telepon genggam, perhatian terhadap Al-Qur’an dinilai perlu terus ditingkatkan. Penggunaan handphone yang lebih banyak untuk menonton dan mengakses berbagai hiburan hendaknya diimbangi dengan meluangkan waktu untuk membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Perintah membaca memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Hal ini tercermin dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yaitu perintah “Iqra’” yang berarti “bacalah”. Oleh karena itu, budaya membaca Al-Qur’an di lingkungan keluarga maupun kantor perlu terus dibangun dan ditingkatkan.

Dalam pembinaan tersebut juga dijelaskan mengenai sejarah pembukuan Al-Qur’an. Al-Qur’an kemudian dihimpun dan dibukukan dalam satu mushaf secara resmi pada masa Khalifah Utsman bin Affan r.a. Sementara itu, Al-Qur’an diawali dengan Surah Al-Fatihah yang dikenal sebagai Ummul Qur’an karena di dalamnya terkandung pokok-pokok ajaran dan makna yang tercermin dalam keseluruhan Al-Qur’an.

Lebih lanjut, Surah Al-Fatihah dijelaskan sebagai bentuk komunikasi dan munajat seorang hamba kepada Allah SWT. Ketika membaca Al-Fatihah dalam salat, seorang hamba sedang menghadap dan berkomunikasi dengan Allah SWT. Karena itu, dianjurkan untuk membacanya dengan perlahan, ayat demi ayat, disertai upaya memahami maknanya. Dalam ayat “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”, seorang hamba memuji Allah SWT, sedangkan ketika mengucapkan “Iyyaka na’budu”, seorang hamba menegaskan pengabdiannya hanya kepada Allah SWT sebelum menyampaikan permohonan kepada-Nya.

Para pegawai juga diajak untuk memperbanyak waktu membaca dan melihat Al-Qur’an agar semakin dekat dengan kitab suci serta menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam Surah Al-Baqarah menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang benar dan berasal dari Allah SWT sehingga tidak sepatutnya terdapat keraguan terhadap kebenarannya. Dalam pembinaan tersebut turut disampaikan kisah Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi dan berusaha meniru Al-Qur’an. Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa manusia tidak akan mampu menghasilkan sesuatu yang menyamai Al-Qur’an.

Pemateri juga menyampaikan beberapa keutamaan membaca Al-Qur’an. Setiap huruf yang dibaca memiliki nilai pahala dan menjadi amal kebaikan bagi pembacanya. Selain itu, Al-Qur’an juga memberikan kemuliaan bagi orang-orang yang senantiasa membaca dan mengamalkannya, termasuk kemuliaan bagi dirinya dan kedua orang tuanya di akhirat.

Tidak hanya berkaitan dengan peningkatan keimanan, pembinaan tersebut juga mengaitkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan pelaksanaan tugas sehari-hari. Seluruh aparatur diingatkan untuk menerapkan empat prinsip budaya kerja, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Kerja keras berarti melaksanakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Kerja cerdas dilakukan dengan ilmu pengetahuan serta terus meningkatkan kemampuan. Kerja tuntas berarti menyelesaikan pekerjaan hingga selesai dengan sebaik-baiknya, sedangkan kerja ikhlas berarti melaksanakan tugas dengan niat yang baik sehingga pekerjaan dapat bernilai sebagai ibadah.

Sebagai penutup, seluruh personel PTA Pekanbaru diajak untuk senantiasa melakukan introspeksi diri dan meningkatkan intensitas membaca Al-Qur’an. Budaya membaca ayat suci Al-Qur’an di lingkungan kantor juga diharapkan dapat terus ditumbuhkan sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang religius, berintegritas, dan penuh keberkahan. Semoga dengan semakin dekat kepada Al-Qur’an, seluruh aparatur PTA Pekanbaru senantiasa diberikan petunjuk, ketenangan hati, kekuatan dalam menjalankan amanah, serta kemampuan untuk bekerja dengan keras, cerdas, tuntas, dan ikhlas, sehingga setiap tugas yang dilaksanakan tidak hanya memberikan manfaat bagi lembaga dan masyarakat, tetapi juga menjadi amal ibadah di sisi Allah SWT.